Perempuan Lira Papua Bagikan 100 Karung Beras dan Pakaian Bagi Warga Kampung Skofro

  • Whatsapp
banner 468x60

Keerom, LiraNews – Kampung Skofro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua merupakan perbatasan terakhir RI-Papua Nugini. Banyak masyarakat yang masih telanjang dan belum bisa berbahasa Indonesia.

“Mereka belum mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Sehingga ketika ada orang baru datang seakan-akan penuh rasa curiga,” ujar Ketum DPW Perempuan Lira, Olivia Pamela Dumatubun Maniagasi,/Kamis (24/12/2020).

Menjelang akhir tahun, kata Mella, sapaan akrabnya Perempuan Lira dan DPW LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) pada Rabu kemarin, mengantarkan 100 karung beras dengan pakaian layak pakai untuk warga Kampung Skofro.

 

Awalnya tanggapan masyarakat penuh tanda tanya terkait tujuan Perempuan Lira datang ke kampung mereka. Setelah diberikan penjelasan mereka sangat terbuka karena mereka merasa selama ini kurang mendapat perhatian dari pemerintahan setempat. dengan baik.

“Teman-teman memberikan penjelasan pada bapak kepala kampung bahwa kami dari Perempuan Lira datang hanya untuk memberikan sumbangan berupa beras dan pakaian layak pakai untuk kegiatan menyambut Natal. kita disambut dengan ramah,” ucapnya.

Mella berharap kepada pemerintah pusat, provinsi, kabupaten untuk bisa lebih memperhatikan mereka yang tinghal di kampung-kampung perbatasan RI. “Kita bisa dikatakan berhasil ketika masyarakat di daerah perbatasan ini diperhatikan,” imbuhnya.

Dia mengemukakan, perempuan merupakan kekuatan potensial dalam pembangunan dan kemajuan bangsa. Perempuan juga menjadi pelaku gerakan pemberdayaan ekonomi dengan etos kerja dan kegigihan, sehingga perempuan menjadi kekuatan strategis dalam pemberdayaan ekonomi mewujudkan kemajuan bangsa.

“Diharapkan Perempuan LIRA sebagai organisasi perempuan dapat menjadi pelopor pemberdayaan ekonomi berbasis keluarga dan pengembangan pendidikan sejak dini, membantu pembentukan karakter yang berakhlak dan bermartabat,” katanya.

Perempuan Lira, lanjutnya, telah berkomitmen menjadi pelopor pembangunan bermitra dengan pemerintah. Pengurus dan anggota Perempuan Lira, kata dia, harus menjadi berkat dan perpanjangan tangan untuk membantu masyarakat, khususnya perempuan dan anak di Papua.

Sementara itu Sekwil Perempuan Lira Provinsi Papua, Sri Wahyuni Rumbarar memberikan gambaran terkait turun lapangan kemarin dalam Rangka Kegiatan Sosial Perempuan Lira Bersama Pemuda Lira Kota Jayapura.

Menurutnya, perjuangan perempuan Lira dan Pemuda Lira dari Kabupaten Keerom menuju salah satu kampung di perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini tidak bisa dibilang mudah.

“Dari pusat Jayapura perjalanan menuju kabupaten Keerom tidak masalah karena tidak banyak hambatan. Namun dari Kabupaten Keerom menuju kampung mulai sulit sekitar 15 km,” jelasnya.

Di sana, kata Sri, penduduknya berbahasa Indonesia campur dengan bahasa daerah Papua Nugini. Selain itu kehidupan mereka sangat sulit tidak seperti gambaran kehidupan kota yang lebih layak.

Prasarana sangat jauh kasihan sekali. Bahkan kalau ada yang sakit perlu ambulan saja birokrasi nya rumit dengan segala macam izin administrasi. “Kemarin saya minta izin belum tentu bisa dibantu,” tukasnya.

Sekarang, lanjutnya, ada satu juta rumah tetapi tidak semua bantuan bisa dinikmati okeh mereka. Mereka adalah gambaran wajah Indonesia di perbatasan.

“Maaf, mereka tidak suka dengan merah putih. Mereka merasa seolah-olah dianak tirikan. Jadi kami kesana juga bukan hal yang mudah. Karena disana tempat dimana akses keluar masuk perbatasan Indonesia-Papua Nugini,” katanya.

“Selain itu banyak saudara-saudara kita yang butuh pakaian layak pakai.Mereka juga ingin menikmati makanan seperti yang ada di kota. Lalu banyak sakit kulit yang dialami anak-anak,” tambah nya.

Perempuan Lira, kata Sri, berbuat ini untuk kepentingan bangsa. Kalau bisa rumah-rumah bantuan langsung berdiri. Untuk setiap kampung yang berada di perbatasan. Prasarana tidak ada rumah sakit dan puskesmas tidak ada padahal disitu ada markas TNI yang sangat bagus dan baik. Ada 5-6 markas TNI disitu. Tapi untuk rumah-rumah warga sangat tidak layak.

“Mereka pendekatannya tidak bisa dilakukan secara kekerasan. Kami masuk ke mereka disambut baik dengan cara kekeluargaan. Mereka punya kasih mereka adalah masyarakat yang bila ada penyampaian secara baik melalui gereja masyarakat adat mungkin mereka akan terima dibandingkan diperlakukan secara militer,” pungkasnya. LN-TIM

 

 

 

banner 300x250

Related posts

banner 468x60